Rayyan, Bocah Viral Lewat Trend Aura Farming Boat Buka Pintu Wisata Internasional Pacu Jalur di Kuantan Singingi

Kuantan Singingi – Di tengah gemuruh meriam penanda lomba dan riuh tepuk tangan penonton, sebuah perahu panjang berkelir cerah melaju di Sungai Batang Kuantan. Perahu tersebut disebut sebagai jalur, simbol budaya masyarakat Kuantan Singingi yang lahir dari kebutuhan sehari-hari masyarakat agraris. Sejak abad ke-17, jalur ini mengangkut tebu, pisang, dan puluhan orang, melintasi sungai panjang ketika jalur darat belum berkembang.

Seiring waktu, rute transportasi pun berubah menjadi ajang kebanggaan bersama. Pacu Jalur berkembang menjadi festival kebudayaan untuk merayakan hari besar Islam seperti Maulid dan Idulfitri, lalu dijadikan pesta rakyat dalam merayakan kemerdekaan sejak 1900-an.

Pada tahun 2025 muncul sebuah trend yang dijuluki sebagai trend Aura Farming Boat yang menunjukkan sosok bocah 11 tahun bernama Rayyan Arkhan Dhika seorang penari yang berdiri di ujung jalur. Ia berdiri tepat di ujung perahu bersama dengan para pendayung perahu di belakangnya. Penampilannya di media sosial inilah yang disebut aura farming boat.

Video berdurasi singkat itu meledak di TikTok, Instagram, bahkan mendapat perhatian media internasional. Ia bukan influencer, namun aura dan bagaimana Rayyan menari di atas perahu meledakkan algoritma jagat maya, lalu para netizen membagikan videonya jutaan kali.

Pacu Jalur saat ini bukan sekadar festival kebudayaan lokal saja. Event tahunan ini dapat menjadi jembatan yang mengundang wisatawan mancanegara datang langsung ke Tepian Narosa, Teluk Kuantan. Misalnya, pada 2021 festival ini sudah menampilkan tim dari Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Bagi warga lokal, Pacu Jalur berarti pekerjaan gotong-royong dari memilih kayu, meranti hingga ritual penyembuhan batin oleh dukun perahu dan tukang tari. Mereka menyulam setiap detail ukiran kepala ular atau buaya, tabuhan gong, pantun, dan tari—dalam rangkaian ritual sakral sebelum lomba.

Istilah penari pacu ini disebut juga dengan Onjay oleh masyarakat Kuantan Singingi. Para Onjay berperan penting dalam menghidupkan nuansa dan nilai tradisional yang selama ini tersembunyi. Netizen Prancis menyebutnya “Le swag de Kuantan,” Brazil bilang “Esse garoto é magia do rio!”

Dengan fenomena Rayyan, Pacu Jalur telah memasuki kalender pariwisata nasional, termasuk program Karisma Event Nusantara (KEN) top-10. Namun momentum ini membutuhkan kesiapan serius seperti infrastrukturnya, manajemen event, homestay budaya, pendidikan pemandu wisata tradisi, dan tata kelola lingkungan sungai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *