Dari Silonyok, Tumbuh Menjadi Petai: Jejak 12 Rumah Tumbuh Menjadi Desa Berkembang

*CERITA SEJARAH*
*”Dari Silonyok, Tumbuh Menjadi Petai”*

Sebelum dikenal sebagai *Desa Petai*, wilayah ini memiliki sebuah nama yang melekat di hati para leluhur: *Silonyok*.

Sekitar tahun *1942*, Silonyok hanyalah sebuah perkampungan kecil di tengah rimbunnya alam Rantau Singingi. Hanya ada *12 rumah* penduduk asli yang berdiri sederhana. Dari 12 dapur yang mengepul itulah, sejarah panjang Desa Petai mulai ditulis. Di tanah inilah cikal bakal sebuah komunitas ditanam, dengan harapan dan kerja keras.

Waktu terus berjalan. Kehidupan masyarakat Silonyok perlahan mulai berkembang. Hingga pada suatu masa, datanglah kebaikan besar dari *Datuk Pucuk H. Usman*. Dengan hati yang lapang, beliau menghibahkan sebagian lahan perkebunannya untuk dijadikan tempat bermukim.

Lahan yang dulunya hanya dipenuhi tanaman, kemudian berubah menjadi halaman rumah, tempat anak-anak bermain, dan pusat kehidupan bersama. Sebuah kebaikan kecil dari seorang datuk, yang menjadi fondasi besar bagi masa depan sebuah desa.

Tahun *1952* menjadi titik balik. Kabar tentang Silonyok menyebar. Penduduk mulai berdatangan dari berbagai penjuru: dari *Sungai Pencong, Koto Lamo, Koto Pingai, Sungai Bawang, hingga Lubuk Tanjung Libuai*. Silonyok tidak lagi sunyi. Rumah-rumah baru berdiri, tawa dan cerita baru mulai terdengar.

Di tahun yang sama, nama *Silonyok resmi berubah menjadi Desa Petai*. Sebuah nama baru untuk lembaran baru. Desa Petai kemudian dipimpin oleh kepala desa pertama, *Datuk Palo Pareman*. Pelantikannya dilakukan langsung oleh Camat Singingi saat itu, *Bapak Nazarudin*. Sejak hari itu, Silonyok menutup bukunya, dan Desa Petai mulai menulis babaknya sendiri.

Kini, Desa Petai telah tumbuh menjadi salah satu desa di *Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi*, dan dipimpin oleh *Bapak Asril (2026)*. Dari 12 rumah, kini telah tumbuh menjadi ratusan rumah yang penuh kehidupan, tawa, dan keberagaman.

Desa Petai juga memiliki akar adat yang sangat kuat. Masyarakatnya mengenal *Ompek Koto Diulak*, warisan leluhur yang terdiri dari empat suku: *Suku Paliang, Suku Melayu, Suku Patopang, dan Suku Domo*. Nilai inilah yang terus dijaga hingga hari ini.

Seiring waktu, pintu Petai terbuka untuk semua. Kini di tanah ini hidup berdampingan *Melayu, Minang, Batak, Jawa, Nias*, dan berbagai suku lainnya. Berbeda bahasa, berbeda adat, berbeda budaya… namun tetap tinggal di satu tanah, di bawah satu langit Petai. Karena orang Petai percaya, perbedaan bukanlah pemisah, melainkan penguat.

Secara wilayah, Desa Petai berbatasan dengan:
*Utara*: Desa Kotobaru
*Selatan*: Desa Kebun Lado
*Barat*: Bukit Rimbang Baling
*Timur*: Desa Simpang Raya

Inilah tanah tempat masyarakat Petai hidup, bekerja, dan membangun masa depan.

*_Dari Silonyok yang sunyi, menjadi Petai yang ramai.
Dari 12 rumah, menjadi sebuah desa yang berdiri kokoh.
Ini adalah cerita tentang kebaikan, keberanian, dan kebersamaan para leluhur yang menumbuhkan Petai hingga hari ini._*

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *