KANDIS — Pihak J&T Express Pasar Minggu Kandis akhirnya buka suara terkait pemberitaan yang menyebut adanya dugaan penyekapan terhadap salah seorang kurir di wilayah Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak.
Melalui klarifikasi yang disampaikan kepada awak media, pihak perusahaan membantah tuduhan tersebut dan menjelaskan bahwa persoalan bermula dari dugaan penyalahgunaan paket oleh seorang kurir yang diketahui menukar isi paket berupa handphone dengan batu dan minyak angin sebelum paket dikembalikan (return) ke gudang.
Leader J&T Express Pasar Minggu Kandis, Hasran Siregar, menjelaskan bahwa kecurigaan awal muncul saat admin menemukan kondisi paket yang dinilai tidak wajar.
“Awalnya admin curiga karena paket terlihat sudah terbuka. Setelah dicek melalui sistem dan dilakukan pemeriksaan, ternyata isi paket diduga sudah ditukar. Barang aslinya berupa handphone,” ujar Hasran.
Menurutnya, kurir yang bersangkutan pada awalnya tidak mengakui perbuatannya saat dimintai klarifikasi oleh pihak kantor. Namun setelah dilakukan pendalaman, yang bersangkutan akhirnya mengaku bahwa barang tersebut telah dijual untuk membayar utang pribadinya.
“Dia sendiri yang mengaku barang itu dijual untuk menutupi utang-utangnya. Nilai kerugian perusahaan lebih dari Rp10 juta,” jelasnya.
Hasran juga menegaskan bahwa tidak pernah ada tindakan penyekapan maupun kekerasan fisik terhadap kurir tersebut seperti yang ramai diberitakan sebelumnya.
Menurutnya, pihak perusahaan saat itu hanya berupaya mencari solusi penyelesaian karena kerugian perusahaan harus segera dipertanggungjawabkan ke pihak finance dan pusat.
“Kami meminta secara baik-baik sebagai bentuk jaminan sementara sambil menunggu penyelesaian. Tidak ada paksaan ataupun kekerasan,” katanya.
Terkait sepeda motor milik kurir yang sempat berada di kantor, pihak perusahaan menyebut kendaraan tersebut dijadikan jaminan sementara atas kesepakatan bersama karena kerugian perusahaan belum dapat diselesaikan saat itu.
“Setelah persoalan dilaporkan ke pihak kepolisian, kendaraan tersebut juga sudah kami antarkan kembali ke rumah keluarganya,” terang Hasran.
Ia juga membantah kabar bahwa kurir tersebut sampai mengalami pingsan akibat tekanan dari pihak kantor. Menurutnya, yang sempat mengalami pingsan justru salah seorang admin kantor karena kondisi stres saat menangani persoalan tersebut.
“Yang pingsan itu admin kami, bukan kurir tersebut. Semua ada bukti CCTV-nya,” tambahnya.
Hasran mengatakan bahwa pada malam kejadian, pihak perusahaan sebenarnya memberikan dua pilihan penyelesaian, yakni membawa persoalan tersebut ke pihak kepolisian atau memanggil keluarga untuk menyelesaikan secara kekeluargaan. Namun, kurir yang bersangkutan disebut menolak dibawa ke Polsek.
“Karena tidak ingin dibawa ke polisi, akhirnya kami hubungi pihak keluarganya untuk musyawarah,” ujarnya.
Selain itu, pihak perusahaan juga mengungkap bahwa dugaan penyalahgunaan paket tersebut tidak hanya melibatkan satu orang, melainkan masih dalam proses pendalaman internal.
Saat ini, persoalan tersebut diketahui telah sama-sama dilaporkan ke pihak kepolisian guna mendapatkan penanganan lebih lanjut sesuai ketentuan hukum yang berlaku.












